All Stories
TRANSMISSION_ID: INDONESIAN_CULTURE_STORIES_51_55
STATUS: DECRYPTED

Cerita Budaya Indonesia | Indonesian Culture Tales 51-55

by Nusantara Dreams Collective|9 min read|
"Lima kisah dari kain tenun Nusantara - dari ulos Batak hingga gringsing Tenganan. | Five tales from Indonesian woven fabrics - from Batak ulos to Tenganan gringsing."

Cerita 51: Penenun Tenun Ikat Ende | The Ende Ikat Weaver

Bahasa Indonesia

Gunung Kelimutu menjulang di kejauhan saat Mama Maria menenun di beranda rumahnya. Perempuan lima puluh dua tahun dari Ende, Flores, adalah penenun tenun ikat generasi keenam.

Tubuhnya besar dan kokoh, kulitnya cokelat gelap oleh matahari Flores, dan jari-jari kapalan namun cekatan bergerak di atas alat tenun kayu. Sarung tenun yang ia kenakan tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang subur—dada besar, pinggul lebar, paha tebal.

Andreas, kurator tekstil dari Museum Victoria and Albert, terpesona melihat proses tenun ikat yang rumit. Tapi lebih terpesona lagi pada Maria.

"Mama Maria, motif ini menceritakan apa?"

"Bapak Andreas, ini motif pahikung—tentang perempuan menunggu kekasih dari laut. Lihat, ini ombak. Ini air mata."

"Mama pernah menunggu seperti itu?"

Maria berhenti menenun dan menatapnya dengan mata cokelat yang dalam. "Setiap perempuan Ende menunggu, Bapak. Pertanyaannya—siapa yang datang?"

Malam itu, di rumah kayu yang menghadap samudra, Andreas menjadi jawaban dari pertanyaan yang sudah puluhan tahun menunggu.

English

Mount Kelimutu loomed in the distance as Mama Maria wove on her porch. The fifty-two-year-old woman from Ende, Flores, was a sixth-generation ikat weaver.

Her body was large and sturdy, her skin dark brown from Flores sun, and her callused yet nimble fingers moved over the wooden loom. The woven sarong she wore couldn't hide her fertile curves—big breasts, wide hips, thick thighs.

Andreas, a textile curator from the Victoria and Albert Museum, was mesmerized watching the intricate ikat process. But more mesmerized by Maria.

"Mama Maria, what does this motif tell?"

"Bapak Andreas, this is pahikung motif—about a woman waiting for her lover from the sea. Look, these are waves. These are tears."

"Has Mama ever waited like that?"

Maria stopped weaving and gazed at him with deep brown eyes. "Every Ende woman waits, Bapak. The question is—who will come?"

That night, in the wooden house facing the ocean, Andreas became the answer to a question that had been waiting for decades.


Cerita 52: Inang Ulos Batak | The Batak Ulos Mother

Bahasa Indonesia

Di tepi Danau Toba, Inang Hotma menenun ulos dengan teknik yang tidak berubah selama ratusan tahun. Lima puluh lima tahun, janda dengan tujuh anak, tubuhnya tetap kokoh dan penuh—ciri perempuan Batak yang kuat.

Ulos yang ia tenun hari ini adalah ulos saput—kain untuk membungkus jenazah atau pengantin. "Sama saja, Amang," jelasnya pada Dr. Erik dari Norwegia yang meneliti tekstil ritual. "Menikah atau mati, sama-sama pindah ke kehidupan baru."

Erik tertawa, tapi matanya tidak bisa lepas dari Inang Hotma—cara jari-jari gemuknya menyisipkan benang emas, cara dadanya yang besar bergoyang mengikuti ritme tenun, cara kakinya yang tebal menginjak pedal.

"Inang, boleh saya belajar menenun?"

"Horas, Amang! Orang Eropa mau belajar tenun? Bagus! Tapi ulos harus ditenun dengan cinta. Kalau tidak, kainnya tidak kuat."

"Bagaimana menenun dengan cinta?"

Hotma berhenti dan menatapnya tajam. "Dengan mencintai seseorang saat menenun. Mau Amang jadi orang yang saya cintai saat menenun?"

English

By Lake Toba's edge, Inang Hotma wove ulos with techniques unchanged for hundreds of years. Fifty-five, a widow with seven children, her body remained sturdy and full—characteristic of strong Batak women.

The ulos she wove today was saput ulos—cloth for wrapping corpses or brides. "Same thing, Amang," she explained to Dr. Erik from Norway researching ritual textiles. "Marriage or death, both moving to new life."

Erik laughed, but his eyes couldn't leave Inang Hotma—how her plump fingers inserted gold threads, how her large breasts swayed with weaving rhythm, how her thick legs pressed the pedals.

"Inang, may I learn to weave?"

"Horas, Amang! A European wants to learn weaving? Good! But ulos must be woven with love. Otherwise, the cloth won't be strong."

"How do you weave with love?"

Hotma stopped and gazed at him sharply. "By loving someone while weaving. Will you be the person I love while weaving?"


Cerita 53: Pengrajin Tapis Lampung | The Lampung Tapis Artisan

Bahasa Indonesia

Tapis adalah mahkota perempuan Lampung—kain tenun yang dihiasi sulaman emas rumit. Bu Hartini, lima puluh satu tahun, adalah salah satu pengrajin tapis terakhir di Liwa.

Tubuhnya besar dan makmur, matanya tajam meski sudah puluhan tahun bekerja dengan detail halus, dan jari-jari gemuknya bergerak dengan presisi menakjubkan. Saat ia bekerja, seluruh tubuhnya ikut bergerak—dada besarnya naik turun, pinggul lebarnya bergoyang pelan.

Vincent, kolektor tekstil dari Paris, datang untuk membeli tapis antik. Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga—Hartini sendiri.

"Bu Hartini, berapa lama membuat satu tapis?"

"Tiga bulan, Mas. Kalau buru-buru, hasilnya tidak bagus."

"Tidak lelah?"

Hartini tertawa. "Lelah itu untuk orang yang tidak mencintai pekerjaannya. Saya menenun sejak umur tujuh tahun. Ini bukan kerja, ini napas."

"Boleh saya lihat Ibu bekerja lebih dekat?"

Malam itu, di kamar kerja yang dipenuhi tapis emas berkilau, Vincent melihat lebih dari sekadar proses pembuatan—ia melihat bagaimana seorang perempuan mencintai dengan seluruh tubuh dan jiwanya.

English

Tapis is Lampung women's crown—woven cloth adorned with intricate gold embroidery. Bu Hartini, fifty-one, was one of the last tapis artisans in Liwa.

Her body was large and prosperous, her eyes sharp despite decades of working with fine details, and her plump fingers moved with amazing precision. When she worked, her whole body moved along—her big chest rising and falling, her wide hips swaying gently.

Vincent, a textile collector from Paris, came to buy antique tapis. He found something more valuable—Hartini herself.

"Bu Hartini, how long to make one tapis?"

"Three months, Mas. If rushed, the result won't be good."

"Not tired?"

Hartini laughed. "Tiredness is for people who don't love their work. I've woven since age seven. This isn't work, this is breath."

"May I watch you work more closely?"

That night, in the workroom filled with gleaming golden tapis, Vincent saw more than just the making process—he saw how a woman loved with her entire body and soul.


Cerita 54: Pembuat Sasirangan Banjar | The Banjar Sasirangan Maker

Bahasa Indonesia

Sasirangan adalah kain khas Banjar yang dibuat dengan teknik tritik—mengikat dan mencelup. Bu Hajjah Aminah, lima puluh empat tahun, adalah pengrajin sasirangan yang terkenal di Banjarmasin.

Tubuhnya besar dan subur khas perempuan Banjar, kulitnya kuning langsat, dan jilbab putihnya membingkai wajah yang masih cantik. Tangan gemuknya yang dihiasi henna bergerak cekatan mengikat kain sebelum dicelup.

Tomas, desainer fashion dari Stockholm yang mencari teknik pewarnaan alami, terpesona oleh proses sasirangan. Tapi lebih terpesona oleh Hajjah Aminah.

"Hajjah, warna sasirangan ini dari mana?"

"Dari alam, Mas. Kuning dari kunyit, merah dari mengkudu, ungu dari kesumba. Semua dari tanah Banjar."

"Hajjah sendiri seperti sasirangan—penuh warna."

Aminah tertawa malu, pipinya merona di balik jilbab. "Mas Tomas bisa saja. Tapi kalau mau lihat sasirangan yang sesungguhnya, harus lihat proses tritik-nya."

Malam itu, di bengkel sasirangan yang beraroma pewarna alami, Tomas menemukan bahwa mengikat dan melepas bukan hanya teknik kain—juga teknik hubungan.

English

Sasirangan is Banjar's distinctive cloth made with tritik technique—tying and dyeing. Bu Hajjah Aminah, fifty-four, was a renowned sasirangan artisan in Banjarmasin.

Her body was large and fertile typical of Banjar women, her skin yellowish-white, and her white hijab framed a still-beautiful face. Her plump hands adorned with henna moved nimbly tying cloth before dyeing.

Tomas, a fashion designer from Stockholm seeking natural dyeing techniques, was mesmerized by the sasirangan process. But more by Hajjah Aminah.

"Hajjah, where do sasirangan colors come from?"

"From nature, Mas. Yellow from turmeric, red from noni, purple from safflower. All from Banjar land."

"Hajjah herself is like sasirangan—full of color."

Aminah laughed shyly, her cheeks blushing beneath her hijab. "Mas Tomas flatters. But to see real sasirangan, you must see the tritik process."

That night, in the sasirangan workshop fragrant with natural dyes, Tomas discovered that tying and releasing wasn't just a cloth technique—also a relationship technique.


Cerita 55: Penenun Gringsing Tenganan | The Tenganan Gringsing Weaver

Bahasa Indonesia

Desa Tenganan di Bali adalah satu-satunya tempat di Indonesia—bahkan dunia—yang memproduksi kain double ikat bernama gringsing. Ni Ketut Rai, lima puluh tiga tahun, adalah salah satu dari segelintir penenun yang masih menguasai teknik kuno ini.

Tubuhnya besar dan kuat, kulitnya cokelat gelap oleh matahari Bali Timur, dan matanya tajam setelah puluhan tahun mengerjakan detail yang sangat halus. Kain gringsing yang ia kenakan melilit tubuhnya yang subur dengan indah.

Dr. Helena, textile archaeologist dari Oxford, menghabiskan berbulan-bulan mempelajari gringsing. Ia menemukan bahwa Ni Ketut Rai bukan hanya penenun—ia adalah ensiklopedia hidup.

"Ibu Rai, gringsing ini... berapa lama membuatnya?"

"Lima tahun, Bli Helena. Kadang lebih."

"Lima tahun untuk satu kain?"

Rai tersenyum. "Gringsing artinya 'tidak sakit.' Kain ini melindungi dari segala keburukan. Bagaimana mungkin membuat pelindung dengan buru-buru?"

"Boleh saya tinggal lebih lama untuk belajar?"

"Bli Helena, di Tenganan, tamu yang datang dengan niat baik adalah keluarga. Tinggallah selama yang diperlukan."

Berbulan-bulan itu, Helena tidak hanya belajar menenun—ia belajar bahwa beberapa hal dalam hidup memang butuh waktu, termasuk cinta.

English

Tenganan village in Bali is the only place in Indonesia—even the world—that produces double ikat cloth called gringsing. Ni Ketut Rai, fifty-three, was one of few weavers still mastering this ancient technique.

Her body was large and strong, her skin dark brown from East Bali's sun, and her eyes sharp after decades of working on very fine details. The gringsing cloth she wore wrapped beautifully around her fertile body.

Dr. Helena, a textile archaeologist from Oxford, spent months studying gringsing. She found that Ni Ketut Rai wasn't just a weaver—she was a living encyclopedia.

"Ibu Rai, this gringsing... how long to make?"

"Five years, Bli Helena. Sometimes more."

"Five years for one cloth?"

Rai smiled. "Gringsing means 'not sick.' This cloth protects from all evil. How could you rush making protection?"

"May I stay longer to learn?"

"Bli Helena, in Tenganan, guests who come with good intentions are family. Stay as long as needed."

Those months, Helena didn't just learn to weave—she learned that some things in life indeed need time, including love.

End Transmission